Menjaga kelestarian hutan mangrove

Menjaga kelestarian hutan mangrove

Belum habis ingatan kita pada peristiwa 5 tahun yang lalu, atau tepatnya 26 Desember 2004, yaitu sewaktu terjadinya bencana tsunami yang melanda Aceh, disusul oleh terjadinya gempa bumi di Tasikmalaya dengan kekuatan 7,3 skala ritcher dan yang baru saja terjadi adalah gempa bumi di Sumatera Barat yang meluluh lantakkan daerah tersebut. Namun gempa bumi yang terjadi di Jawa Barat dan Sumatera Barat ini mempunyai dampak tsunami yang kecil dibandingkan dengan gempa bumi di Aceh. Peristiwa yang dahsyat itu, menyadarkan kita betapa pentingnya menjaga kelestarian alam terutama mengelola lingkungan dengan penuh rasa tanggung jawab. Salah satu usaha untuk menghindari terjadinya bencana yang disebabkan oleh pasang air laut, adalah menjaga kelestarian hutan mangrove.

Hutan mangrove atau dapat juga disebut hutan bakau , merupakan salah satu ekosistim hutan yang mempunyai fungsi sebagai hutan lindung, dan hutan konservasi yang telah banyak disalah gunakan demi kepentingan ekonomi. Apabila disebutkan satu persatu, banyak sekali kegunaan dari adanya hutan mangrove. Salah satu yang terpenting adalah sebagai penahan gelombang dan angin, pelindung dari abrasi dan pengikisan pantai oleh air laut. Disamping itu juga sebagai habitat beberapa satwa liar, penghasil kayu konstruksi, kayu bakar, bahan baku kertas dan sebagai tempat ekowisata. Tanpa hutan mangrove yang berfungsi sebagai penahan abrasi, kita akan melihat garis pantai Indonesia yang terpanjang kedua di dunia, sepanjang 81.000 km akan terkikis habis. Jika hal itu dibiarkan, dalam beberapa puluh tahun kedepan, hutan mangrove di Indonesia akan tinggal kenangan. Indonesia yang menjadi surga mangrove terbesar didunia, akan merasakan akibat yang sangat parah dari rusaknya ekosistem mangrove itu. Luas hutan bakau Indonesia antara 2,5 hingga 4,5 juta hektar, merupakan mangrove yang terluas di dunia. Di Indonesia, hutan-hutan mangrove yang luas terdapat di seputar Dangkalan Sunda yang relatif tenang dan merupakan tempat bermuara sungai-sungai besar. Yakni di pantai timur Sumatera, dan pantai barat serta selatan Kalimantan. Di pantai utara Jawa, hutan-hutan ini telah lama terkikis oleh kebutuhan penduduknya terhadap lahan. Sedangkan di bagian timur Indonesia, di tepi Dangkalan Sahul, hutan-hutan mangrove yang masih baik terdapat di pantai barat daya Papua, terutama di sekitar Teluk Bintuni. Mangrove di Papua mencapai luas 1,3 juta ha, sekitar sepertiga dari luas hutan bakau Indonesia.

Disamping melestarikan hutan mangrove, tidak kalah penting adalah melakukan pembudidayaan mangrove. Kegiatan ini tidak dapat dilakukan secara biasa namun perlu mengadakan langkah-langkah seperti survey dan penetapan lokasi penanaman, persemaian dan pembibitan, penanaman dan pemeliharaan.
Harga yang dibayar akibat perusakan teramat sangat mahal dibandingkan harga sebuah konservasi. Oleh karena itu mari kita beri dukungan pada usaha-usaha yang bertujuan menjaga kelestarian hutan mangrove, baik itu di dunia maupun di Indonesia. Beri dukungan bagi kebijakan-kebijakan pelestarian hutan mangrove dan lawan segala bentuk eksploitasi hutan mangrove untuk kepentingan ekonomi. Perlu adanya pendidikan pelestarian lingkungan sejak dini yang mengajarkan bahwa pelestarian hutan mangrove adalah salah satu cara membuat bumi semakin baik.

-bs-
Tangerang, 16 Desember 2009

1 Komentar

  1. dealer pulsa said,

    April 10, 2011 pada 1:06 am

    bumi adalah tanggung jawab kita untuk melestarikannya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: